Bayangkan sebuah sumur sederhana di Madinah yang pahalanya terus mengalir selama lebih dari 14 abad. Itulah kisah wakaf Sumur Raumah (dikenal juga sebagai Bir Rumah atau Sumur Utsman), teladan luar biasa dari Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dalam mewujudkan sadaqah jariyah.
Berdasarkan riwayat berharga dalam Tarikh al-Madinah karya Ibn Syabbah, sumur ini awalnya milik seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga mahal di tengah paceklik. Rasulullah SAW mendorong sahabat untuk membelinya demi umat, dan Utsman bin Affan segera bertindak dengan kedermawanan luar biasa.
Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan inspirasi abadi bagi kita untuk berwakaf. Seperti wakaf pendidikan di Pondok Pesantren Tazakka yang mendanai generasi penghafal Al-Qur’an. Mari kita telusuri sejarah wakaf Utsman bin Affan ini secara lengkap, dari awal hingga manfaatnya yang masih dirasakan hingga hari ini.
Latar Belakang Sumur Raumah di Madinah Al-Munawwarah
Sumur Raumah terletak di lembah Al-Aqiq, sekitar 3-4 km barat laut Masjid Nabawi. Pada masa awal Islam, Madinah sering dilanda kekeringan parah. Banyak sumur mengering, meninggalkan Sumur Raumah sebagai sumber air jernih yang paling segar.
Namun, sumur ini dimiliki seorang Yahudi (atau menurut sebagian riwayat, seorang dari suku Muzaynah). Ia menjual setiap tetes air dengan harga tinggi, membuat kaum Muslimin kesulitan. Umat harus antre panjang dan membayar mahal hanya untuk segelas air bersih.
Kondisi ini menyentuh hati Rasulullah SAW, yang kemudian memberikan dorongan besar bagi lahirnya salah satu wakaf paling ikonik dalam sejarah Islam.
Ajakan Rasulullah SAW dan Keutamaan Wakaf Sumur Raumah
Melihat penderitaan umat, Rasulullah SAW bersabda dengan penuh harap:
- “Siapa yang membeli Sumur Raumah, maka Allah akan mengampuni dosanya, dan ia akan mendapatkan sumur serupa di surga.”
- Dalam riwayat lain: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah Utsman” (merujuk langsung pada wakaf ini).
- Beliau juga memuji: “Niʻma al-qalib qalib al-Muzani” (Sebaik-baik sumur adalah sumur milik orang Muzaynah).
Sabda-sabda ini menjadi motivasi kuat. Para sahabat tergerak, namun Utsman bin Affan—yang dikenal sebagai dermawan—langsung melangkah maju. Ia melihat peluang besar untuk sadaqah jariyah yang pahalanya tak pernah putus.
Proses Pembelian dan Wakaf oleh Utsman bin Affan RA
Utsman mendatangi pemilik sumur dan menawar dengan harga tinggi. Awalnya, pemilik enggan karena sumur itu sumber penghasilan utama. Utsman lalu membeli separuh dulu seharga 20.000 dirham. Hari giliran Utsman, air dibagikan gratis—umat mengambil stok untuk dua hari sekaligus.
Akibatnya, pada hari milik pemilik Yahudi, hampir tak ada pembeli. Ia pun menjual separuh sisanya. Total, Utsman membayar sekitar 40.000 dirham dari hartanya sendiri (ada riwayat menyebut 30.000-40.000 dirham).
Setelah menjadi milik penuh, Utsman segera mewakafkannya: “Sumur ini untuk kaum Muslimin—fakir miskin, orang kaya, dan musafir—gratis selamanya.”
Bahkan saat masa fitnah dan pengepungan rumahnya, Utsman mengingatkan para sahabat seperti Ali, Talhah, Zubair, dan Sa’d: “Apakah kalian ingat ketika aku membeli Sumur Raumah dan mewakafkannya untuk umat?” Riwayat Ibn Syabbah mencatat momen mengharukan ini dengan detail.

Dampak Abadi Wakaf Sumur Raumah hingga Kini
Wakaf Utsman mengubah Sumur Raumah menjadi sumber kebaikan tanpa batas. Dahulu, air gratis menyelamatkan ribuan jiwa dari dahaga. Kemudian berkembang menjadi kebun kurma dengan ribuan pohon, hingga kini menjadi aset wakaf produktif: hotel, masjid, dan program sosial yang menghasilkan miliaran rupiah setiap tahun untuk yatim, fakir, dan dakwah.
Manfaatnya terus mengalir, membuktikan janji Rasulullah SAW bahwa sadaqah jariyah tetap memberi pahala meski pewakaf telah wafat.
| Aspek | Wakaf Historis (Sumur Raumah) | Wakaf Modern (Pondok Tazakka) |
| Manfaat Utama | Air bersih gratis + kebun kurma untuk umat | Pendidikan santri berkelanjutan |
| Nilai Awal | 30.000-40.000 dirham | Donasi wakaf uang untuk dana abadi |
| Dampak Jangka Panjang | Abadi 1.400+ tahun, aset produktif saat ini | Generasi hafiz Qur’an & dai masa depan |
Pelajaran Berharga dari Kisah Wakaf Utsman bin Affan untuk Kita
Kisah ini mengajarkan kita tentang keikhlasan, prioritas kebutuhan umat, dan kekuatan wakaf sebagai amal abadi. Rasulullah SAW bersabda: “Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shalih.”
Hari ini, kita bisa meniru Utsman dengan berwakaf untuk pendidikan, kesehatan, atau masjid. Di era modern, wakaf uang atau aset produktif semakin mudah—seperti program wakaf di Pondok Tazakka yang mendanai santri pelanjut estafeta umat.
Penutup: Mari Ikuti Jejak Dermawan Utsman bin Affan
Dari halaman-halaman Tarikh al-Madinah Ibn Syabbah, kisah wakaf Sumur Raumah oleh Utsman bin Affan RA menjadi bukti nyata betapa satu kebaikan bisa bermanfaat lintas generasi.
Mari kita wujudkan sadaqah jariyah serupa. Mulailah wakaf Anda hari ini untuk pendidikan santri di Pondok Pesantren Tazakka—pahala yang terus mengalir hingga akhirat.
Wakaf sekarang di wakaftazakka.id dan raih keutamaan wakaf seperti Utsman bin Affan!

