wakaftazakka.id

Salah ‘Atiyyah: Insinyur yang Memerangi Kemiskinan dengan Takaful dan Wakaf

صلاح عطية.. 40 عاما من الكفاح والعمل جعلته أيقونة العمل الخيرى بمصر والسر في "الشريك الأعظم ...

Salah ‘Atiyyah adalah seorang insinyur pertanian Mesir yang lahir dari keluarga sederhana di desa miskin. Ia mendedikasikan hidupnya untuk amal kebaikan berbasis usaha mandiri, tanpa bergantung pada bantuan pemerintah. Hasilnya luar biasa: ia membangun institusi pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga universitas, serta fasilitas sosial yang menghapus kemiskinan, pengangguran, dan penyakit di lingkungannya. Inti pesan dari kisahnya adalah kekuatan iman dan kerja keras, di mana “التجارة مع الله” (perdagangan dengan Allah) menjadi kunci sukses.

Kisah ini sangat relevan dengan wakaf produktif, di mana sebagian keuntungan bisnis dialokasikan sebagai “سهم لله” (bagian untuk Allah). Mulai dari 10%, porsi ini meningkat hingga 50%, mirip prinsip wakaf yang menghasilkan pahala mengalir terus seperti sedekah jariyah. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 261, “مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ” (Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui). Ini mengilustrasikan bagaimana wakaf produktif bisa mengubah masyarakat, seperti yang dilakukan Salah ‘Atiyyah.

Latar Belakang dan Kelahiran

Salah ‘Atiyyah lahir di desa Tafahna al-Asyraf, yang berada di pusat Mit Ghamr, provinsi Dakahlia, di timur Delta Nil, Mesir. Ia bukan dari keluarga kaya; sebaliknya, ia tumbuh dalam kemiskinan materi yang umum di desa-desa Mesir, baik di wilayah selatan maupun utara. Namun, latar belakang ini justru membentuknya menjadi pribadi yang tangguh.

Ia tidak pernah bergabung dengan partai politik atau kelompok tertentu, juga bukan pegawai pemerintah. Ia adalah produk asli lingkungan pedesaan Mesir, penuh dengan kebijaksanaan sederhana dan spontan. Sepanjang hidupnya, ia tidak mencari imbalan, ketenaran, atau kekuasaan. Kata-katanya sederhana, bukan pidato mewah, tapi mampu membangkitkan semangat kebaikan di hati orang-orang sekitarnya, menekankan aksi nyata daripada kata-kata indah.

Dari segi pendidikan, Salah ‘Atiyyah tumbuh di lingkungan pertanian dan memilih bidang itu sebagai studi kuliahnya. Ia lulus dari salah satu fakultas pertanian di Mesir, yang jumlahnya banyak dan lulusannya melimpah. Ilmu ini ia gunakan bukan hanya untuk bercocok tanam, tapi juga untuk “menanam” nilai-nilai sosial seperti takaful (saling tolong-menolong) dalam masyarakatnya. Ini mengingatkan kita pada manfaat wakaf, di mana aset seperti tanah pertanian bisa diwakafkan untuk keberlanjutan ekonomi umat, mirip wakaf produktif yang dikelola Pondok Modern Tazakka di Indonesia.

Awal Perjalanan dan Ide Kunci

Perjalanan amal Salah ‘Atiyyah dimulai dari budaya pertanian yang ia kenal baik. Ia “menanam” nilai takaful di lingkungannya, merawatnya dengan telaten, yakin bahwa hasilnya akan datang untuk dinikmati oleh kaum miskin dan yang membutuhkan. Keyakinannya kuat: “التجارة مع الله لا تبور” (perdagangan dengan Allah tidak pernah rugi), dan ia membuktikannya sendiri.

Semuanya berawal dari proyek peternakan ayam bersama sembilan orang teman, yang masing-masing menyumbang 200 pound Mesir (sekitar 200 ribu-an rupiah). Mereka butuh mitra kesepuluh. Salah ‘Atiyyah mengusulkan: “الشريك العاشر سيكون لله” (mitra kesepuluh adalah Allah, Dia mendapat 10% keuntungan). Semua setuju, dan proyek itu sukses melebihi harapan. Keuntungan berlipat, sehingga mereka meningkatkan porsi untuk Allah menjadi 20%, lalu terus naik hingga 50% setiap tahun.

Ide ini mirip wakaf uang Tazakka, di mana dana wakaf diinvestasikan secara produktif untuk menghasilkan keuntungan yang dialokasikan ke proyek sosial. Seperti hadits Rasulullah SAW: “إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له” (Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya). Porsi keuntungan ini menjadi sedekah jariyah yang mengalir terus.

Dampak dan Pencapaian di Desa

Keuntungan dari proyek ayam dialokasikan untuk amal di desa Tafahna al-Asyraf. Mulai dari pendidikan:

  • Pendidikan Dasar: Didirikan taman kanak-kanak (hadanah) gratis untuk hafalan Al-Qur’an, termasuk transportasi dari desa tetangga dan seragam gratis.
  • Pendidikan Menengah: Institut keagamaan dasar untuk anak laki-laki dan perempuan, lalu tingkat menengah pertama, dan pondok Azhari menengah atas untuk keduanya.
  • Pendidikan Tinggi: Empat fakultas universitas: Syariah dan Hukum, Perdagangan untuk Perempuan, Ushuluddin, dan Pendidikan. Desa ini menjadi yang pertama di Mesir memiliki universitas (cabang Universitas Al-Azhar).

توقعات تنسيق الثانوية الأزهرية 2024 جامعة الأزهر تفهنا الأشراف بنات - الوطن

Universitas al-Azhar, Tafahna al-Asyraf, al-Daqahliyyah.

Fasilitas pendukung:

  • Stasiun kereta api dibangun dengan usaha mandiri.
  • Asrama mahasiswi untuk 600 orang dan mahasiswa untuk 1.000 orang.

Di bidang ekonomi dan sosial:

  • Kemiskinan, pengangguran, dan penyakit hilang sepenuhnya.
  • Dukungan untuk janda dan jompo: Diberi kambing beserta pakan; pelatihan menjahit dengan mesin gratis, dan tugas menjahit seragam TK yang dipasarkan, meningkatkan pendapatan mereka.
  • Bantuan untuk pengrajin: Beli peralatan kerja, termasuk untuk dokter. Bagi yang bukan pengrajin, kerjasama dengan grosir untuk membuka toko ritel.
  • Komite khusus:
    • Komite Pertanian: Insinyur pensiunan tingkatkan produktivitas tanaman.
    • Komite Pemuda: Isi waktu luang dengan kegiatan positif.
    • Komite Pendidikan: Kepala sekolah pensiunan tingkatkan kualitas pendidikan.
    • Komite Rekonsiliasi: Mediasi konflik dengan ahli terkait, lengkap dengan kantor dan catatan.

Tradisi komunal:

  • Saat panen, hasil bumi dibagikan ke semua warga, tua-muda.
  • Hari pertama Ramadan: Iftar bersama di lapangan luas, melibatkan seluruh desa.

Keberadaan universitas menciptakan booming ekonomi: Perdagangan ramai, transportasi aktif, rumah-rumah tambah kamar untuk disewakan ke mahasiswa. Hasilnya, tidak ada pengangguran atau kemiskinan lagi. Ini menunjukkan bedanya sedekah dan wakaf: sedekah sekali habis, wakaf produktif menghasilkan manfaat berkelanjutan.

Ekspansi dan Penyebaran

Jejak Salah ‘Atiyyah tidak terbatas di desanya. Ia berkeliling ke desa tetangga di provinsi Dakahlia dan provinsi lain. Setiap desa yang dikunjungi, ia dirikan “بيت مال للمسلمين” (rumah harta umat Muslim) untuk bantu miskin, janda, dan pemuda melalui proyek mandiri, agar mereka mandiri tanpa bergantung orang lain.

الشيخ صلاح عطية - حفل إنشاء المعهد الأزهري وبيت المال - صفط الحرية 1996 - YouTube

Ia membangkitkan semangat kebaikan di kalangan rakyat biasa. Mereka ikut serta dengan apa yang dimiliki: uang sederhana, bahkan seekor ayam untuk makanan pekerja. Saksi mata ceritakan bagaimana massa berlomba berdonasi, yang tak punya uang beri tenaga sesuai keahlian.

Pendekatan ini memecah pola di Mesir, di mana proyek pemerintah fokus di kota besar, sementara desa diabaikan kecuali musim pemilu. Janji-janji lenyap, desa tetap terbelakang di pendidikan, kesehatan, dll. Kisah ini inspiratif untuk Indonesia, di mana wakaf bisa ekspansi melalui platform digital seperti wakaf Tazakka, mendukung pendidikan penerus umat.

Pelajaran dan Relevansi dengan Wakaf

Kisah Salah ‘Atiyyah adalah model wakaf produktif: Keuntungan bisnis dialokasikan ke pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat, menciptakan keberlanjutan tanpa ketergantungan negara. Ini seperti wakaf tanah atau uang yang diinvestasikan, menghasilkan pahala mengalir terus.

Takaful sejati terwujud: Masyarakat bukan penerima pasif, tapi mitra aktif. Semua berkontribusi sesuai kemampuan, menciptakan masyarakat mandiri.

Di Indonesia, ini bisa diterapkan melalui lembaga wakaf Pondok Modern Tazakka. Misalnya:

  • Gedung Asrama Putri 8 lokal (lantai 2) – target Rp2.007.000.000, agar santri putri bisa tinggal dan fokus belajar dengan tenang.
  • Gedung Kelas Putra 12 lokal – target Rp2.880.000.000.
  • Pembebasan lahan wakaf pesantren – target Rp1.210.000.000.
  • Wakaf atas nama orang tua serta perumahan guru.

Manfaat wakaf jelas: Pahala abadi, seperti sedekah jariyah. Mulailah dari kecil, seperti 10% keuntungan bisnis untuk wakaf produktif.

Penutup

Salah ‘Atiyyah wafat pada 12 Januari 2016, usia 70 tahun, setelah hidup setia pada idenya tanpa haus harta, ketenaran, atau pengaruh. Sirah dan perjalanannya mencerminkan “استقامة الفكرة وصلاح العطية” (konsistensi ide dan kebaikan pemberian) sesuai namanya.

Warisannya abadi, mengajak kita tiru semangat ini dalam wakaf. Mulai kecil, ikhlas, dan yakin janji Allah. Bergabunglah dengan wakaf Pondok Modern Tazakka untuk ciptakan desa bebas kemiskinan. Ingat, wakaf produktif bukan hanya amal, tapi investasi akhirat yang berlipat ganda.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *