
Apakah Anda pernah bertanya-tanya, apa arti pengorbanan sejati dalam bersedekah? Di tengah kehidupan modern yang penuh tuntutan ekonomi, banyak dari kita berjuang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan keluarga dan panggilan untuk beramal. Bayangkan jika kita bisa memberikan harta yang tidak hanya bermanfaat di dunia, tapi juga mengalirkan pahala terus-menerus di akhirat, seperti sedekah jariyah yang tak pernah putus.
Hadis ini berasal dari Tuhfah al-Ahwazi karya al-Mubarakfuri, diriwayatkan oleh Umar ibn al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih, artinya autentik dan dapat diandalkan. Kisah ini menggambarkan momen penting di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana perintah untuk bersedekah menjadi pelajaran abadi tentang keikhlasan. Hadis ini sangat relevan dengan tema sadaqah, zakat, dan wakaf, yang menjadi pilar filantropi Islam. Melalui cerita ini, kita diajak untuk memahami puncak kemurahan hati berbasis iman, di mana harta duniawi ditempatkan di bawah prioritas pahala akhirat. Hal ini selaras dengan misi wakaftazakka.id, situs wakaf Islam di Indonesia yang mempromosikan wakaf produktif untuk kesejahteraan umat, seperti wakaf uang Tazakka yang mendukung Pondok Modern Tazakka.
Artikel ini akan mengeksplorasi bagaimana hadis ini menginspirasi kita untuk memprioritaskan wakaf sebagai bentuk sedekah jariyah, di mana manfaat wakaf terus mengalir, membangun masyarakat yang lebih baik sambil menjamin pahala abadi.
Narasi Hadis
Untuk menjaga keaslian, berikut teks Arab asli hadis dari Tuhfah al-Ahwazi:
حدَّثنا هارُونُ بن عبد اللهِ البزَّازُ البَغدادِيُّ، قال: حدَّثنا الفضلُ بن دُكَين، قال: حدَّثنا هِشامُ بن سَعْدٍ، عن زيدِ بن أسلمَ، عن أبيه، قال:
سمِعتُ عُمرَ بن الخطَّابِ يقولُ: أمَرنا رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن نَتصدَّقَ، فَوافقَ ذلكَ عندي مالًا، فقلتُ: اليومَ أسبقُ أبا بَكْرٍ، إن سَبقتُه يومًا، قال: فَجِئتُ بِنصْفِ مالي، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: “ما أبقَيتَ لِأهلكَ؟ ” قلتُ: أبقيتُ لهم. قال: “ما أبقيتَ لهم؟ ” فقلت مِثْلَهُ، وأتى أبو بَكْرٍ بِكُلِّ ما عنده، فقال: “يا أبا بَكْرٍ ما أبقَيتَ لِأهلكَ؟ ” قال: أبقَيتُ لهم اللهَ ورسولَه. قلتُ: لا أسْبقُهُ إلى شيءٍ أبدًا.
هذا حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.
Umar ibn al-Khattab berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu, saya kebetulan memiliki harta, maka saya berkata dalam hati, ‘Hari ini saya akan mengalahkan Abu Bakar, jika pernah saya mengalahkannya suatu hari.’ Lalu saya datang dengan setengah harta saya. Rasulullah bertanya, ‘Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya jawab, ‘Saya tinggalkan untuk mereka setengahnya.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apa yang kamu tinggalkan untuk mereka?’ Saya jawab, ‘Seperti itu.’ Kemudian Abu Bakar datang dengan seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Ia menjawab, ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Saya pun berkata, ‘Saya tidak akan pernah mengalahkannya dalam hal apa pun selamanya.'”
Sanad (rantai periwayatan): Hadis ini diriwayatkan melalui jalur yang kuat, dimulai dari Harun bin Abdullah al-Bazzaz al-Baghdadi, kemudian Fadl bin Dukain, Hisham bin Sa’d, Zaid bin Aslam, dari ayahnya Aslam, hingga Umar ibn al-Khattab. Sanad ini menjamin keabsahan hadis, sebagaimana dinyatakan hasan sahih oleh al-Mubarakfuri.
Kronologi peristiwa utama:
- Rasulullah memerintahkan umat untuk bersedekah.
- Umar, yang saat itu memiliki harta melimpah, berniat mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan.
- Umar membawa setengah hartanya; Rasulullah menanyakan bagian untuk keluarga, dan Umar menjawab setengah.
- Abu Bakar membawa seluruh hartanya, menyatakan bahwa ia meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya.
- Umar menyadari keunggulan Abu Bakar dan bertekad tidak lagi bersaing dengannya.
Penjelasan dan Komentar (Berdasarkan Syarah al-Mubarakfuri)
Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Ahwazi memberikan penjelasan mendalam untuk memahami konteks dan makna hadis ini.
Pecahan frasa kunci:
- “An natasaddaq”: Artinya memerintahkan untuk bersedekah di salah satu jalur kebaikan, seperti untuk jihad atau kebutuhan umat.
- “Wafaqa dhālika ‘indi mālan”: Menunjukkan bahwa perintah sedekah bertepatan dengan Umar memiliki harta banyak pada saat itu, menekankan keadaan sebagai peluang.
- “Al-yawma asbaqu Abā Bakr”: Umar berniat mengalahkan Abu Bakar melalui persaingan atau kelebihan dalam amal, mungkin dengan semangat kompetisi sehat.
- “In sabiqtuhu yawman”: Bisa berarti kondisional (“jika pernah mengalahkannya suatu hari”) atau negasi (“belum pernah mengalahkannya sebelumnya”), menunjukkan kerendahan hati Umar.
- “Qultu mithlahu”: Umar menjawab bahwa ia meninggalkan setengah harta untuk keluarga, seperti yang dibawa.
- “Bi kulli mā ‘indahu”: Abu Bakar membawa seluruh hartanya.
- “Abqaytu lahum Allāha wa rasūlahu”: Ia meninggalkan kepuasan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarga, artinya tawakkul penuh pada Allah.
- “Lā asbaquhu ilā syai’in abadan”: Umar tidak akan mengalahkan Abu Bakar dalam keutamaan apa pun, karena meski Umar kaya dan Abu Bakar miskin, Abu Bakar tetap unggul.
Wawasan ulama: Hadis ini mengilustrasikan tawakkul unggul Abu Bakar (ketergantungan total pada Allah) dan kerendahan hati Umar. Al-Mubarakfuri menekankan konteks perintah sedekah sebagai ujian iman, serta implikasi untuk fadha’il (keutamaan), di mana Abu Bakar menunjukkan prioritas akhirat meski hartanya sedikit.
Referensi silang: Hadis ini selaras dengan ayat Al-Quran seperti Surah Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” Ini mengingatkan bahwa sedekah, termasuk wakaf, berlipat ganda pahalanya.

Pelajaran dan Ajaran Moral
Hadis ini menyimpan pelajaran mendalam yang relevan untuk kehidupan beramal.
Tema inti:
- Esensi sedekah sejati: Bukan sekadar memberikan sebagian, tapi penyerahan total kepada Allah, seperti Abu Bakar yang melepaskan segalanya demi iman.
- Kerendahan hati dalam kompetisi: Kisah Umar mengajarkan rivalitas sehat dalam amal shaleh tanpa ego, di mana kekalahan justru menjadi pelajaran.
- Penyediaan keluarga: Harus seimbang antara hak keluarga dan amal, tapi prioritas utama adalah kepercayaan pada Allah.
Hubungan dengan zakat dan wakaf: Zakat wajib (seperti memberikan sebagian seperti Umar) berbeda dengan sadaqah sukarela atau wakaf (seperti Abu Bakar yang “menyerahkan semua”). Wakaf adalah sedekah jariyah di mana pahala mengalir terus, bahkan setelah wafat. Bedanya sedekah dan wakaf: Sedekah sekali pakai, sementara wakaf produktif seperti wakaf uang Tazakka menghasilkan manfaat berkelanjutan untuk generasi mendatang, mirip meninggalkan “Allah dan Rasul-Nya” bagi keluarga.
Relevansi dengan Kehidupan Kontemporer
Di era sekarang, materialisme sering menghalangi kemurahan hati. Di Indonesia, tekanan ekonomi seperti inflasi dan biaya hidup tinggi membuat banyak orang ragu bersedekah. Namun, hadis ini mengingatkan bahwa kekayaan sejati ada di akhirat, bukan dunia.
Cerita inspiratif: Pondok Modern Tazakka di Batang, Jawa Tengah, adalah contoh nyata wakaf produktif. Melalui Wakaf Tazakka, mereka mengelola wakaf uang berjangka; misalnya, wakaf Rp100 juta dari seorang wakif menghasilkan Rp916 juta setelah 8 tahun, dikembalikan dengan manfaat untuk pembangunan pondok. Ini mendukung pendidikan santri dan kesejahteraan umat. Lainnya, partnership dengan Resto Three Uncles yang wakafkan 2% profit bulanan untuk program pendidikan di Tazakka, menunjukkan bagaimana wakaf profesi dan korporasi bisa menghasilkan manfaat wakaf berkelanjutan.
Renungkan, “Apa yang akan Anda tinggalkan untuk keluarga Anda?” Mulailah dengan wakaf uang Tazakka melalui wakaftazakka.id, di mana manfaat wakaf mendukung Pondok Modern Tazakka dan proyek sosial. Ini bukan paksaan, tapi undangan untuk meraih pahala mengalir terus.
Kesimpulan
Hadis Umar tentang Abu Bakar mengingatkan kita pada pesan abadi: Sedekah sejati adalah penyerahan total pada Allah, menghasilkan pahala tak terputus. Kisah ini mendorong kita memprioritaskan wakaf produktif untuk keutamaan akhirat.
Refleksi akhir: Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim). Benar, kekayaan sejati terletak pada iman dan amal yang abadi.
Mari bergabung dengan gerakan wakaf di wakaftazakka.id untuk membangun masa depan umat dengan pahala mengalir terus.