
Bayangkan seorang haji dari Damaskus pada abad ke-19. Perjalanan ke Madinah memakan waktu 40 hingga 90 hari penuh debu, panas gurun, bahaya perampok Badui, dan kelelahan yang tak terbayangkan. Sekarang bayangkan: hanya 4 hari dengan kereta yang aman, nyaman, dan penuh berkah.
Itulah keajaiban Kereta Hejaz (Ska Hejaz atau Hejaz Railway), proyek raksasa yang dibangun tahun 1900–1908 di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II. Panjangnya mencapai 1.322–1.465 km menghubungkan Damaskus hingga Madinah, dan yang paling luar biasa: 100% dibiayai oleh wakaf, donasi, dan sedekah umat Islam sedunia — tanpa satu sen pun pinjaman dari negara Barat.
Bagi kita di wakaftazakka.id, Kereta Hejaz bukan sekadar cerita sejarah. Ini bukti hidup bahwa sedekah jariyah skala besar mampu mengubah peradaban. Satu proyek yang masih dikenang 116 tahun kemudian, pahalanya terus mengalir bagi jutaan umat.
Bagaimana umat Islam dari India, Afrika Selatan, Singapura, Iran, Kuwait, hingga rakyat biasa bersatu membangun “Jalan Sutra Besi” ini? Mari kita telusuri bersama.

Latar Belakang & Lahirnya Ide “Himpi Lama” Sultan Abdul Hamid II
Sejak 1864, ide kereta api ke tanah suci sudah muncul. Insinyur Amerika, Jerman, Turki, bahkan Inggris mengajukan proposal. Namun semua gagal karena biaya mahal dan kurangnya dukungan.
Sultan Abdul Hamid II melihat peluang yang lebih besar. Beliau ingin:
- Menyatukan wilayah Kekhalifahan Utsmaniyah
- Melindungi dua tanah suci Makkah dan Madinah
- Memudahkan jutaan haji
- Mewujudkan Pan-Islamisme — persatuan umat Islam global
Peran penting dimainkan oleh Ahmed Izzat Pasha (mantan Direktur Wakaf di Jeddah) dan jurnalis India Muhammad Insha Allah yang gencar mengkampanyekan proyek ini di seluruh media dunia Islam. Dalam memoarnya tahun 1898, Sultan menyebutnya “mimpi lama” yang akhirnya beliau wujudkan tahun 1900.
Pendanaan Ajaib: Wakaf + Donasi Umat Islam Sedunia (Inti Pelajaran Wakaf Kita)
Total biaya proyek diperkirakan 3,5–4 juta lira Utsmaniyah — setara 15–20% anggaran negara saat itu, di tengah defisit dan utang luar negeri yang menumpuk.
Tidak ada modal asing sama sekali. Ini murni proyek umat Islam!
Sumber dana terdiri dari tiga pilar utama:
- Wakaf resmi negara: pajak khusus, materai pos, hasil penjualan kulit hewan kurban, mata air mineral Hammam, dan pelabuhan Haifa yang diwakafkan khusus.
- Donasi penguasa dan pejabat: Sultan sendiri menyumbang 320 ribu lira (seperempat total biaya!). Keluarga kerajaan, menteri, dan pegawai negeri mengikuti.
- Donasi umat dari seluruh dunia:
- Syah Iran: 50 ribu lira
- Amir Kuwait: 500 lira
- Sultan Maroko: 750 franc
- Amir Bukhara: 400 franc
- Muslim Natal (Afrika Selatan): 1.000 lira
- Muslim Singapura: 4.000 pound sterling
- Muslim India: 150 ribu lira
Total donasi mencapai 760 ribu lira (sekitar 1/3 biaya) dari lebih dari 20.000 nama donatur yang tercatat rapi di 6 jilid arsip Ottoman di Istanbul!
Sultan bahkan mencetak Medali Hamidiyah khusus, gelar Pasha, dan jam saku bertuliskan gambar lokomotif sebagai tanda terima kasih. Bahkan seorang warga Austria rela membayar 2.100 lira emas hanya untuk gelar Pasha!
Pelajaran abadi untuk kita: Sedekah kecil dari jutaan orang biasa bisa mendanai megaproyek yang bermanfaat ratusan tahun. Ini bukti nyata firman Allah ﷻ:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Dan sabda Rasulullah ﷺ: “Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Proses Pembangunan: Kerja Keras & Keajaiban Teknik
Sultan membentuk dua panitia: satu di Istanbul (dipimpin beliau sendiri) dan satu di Damaskus. Insinyur utama adalah Heinrich August Meissner (Jerman) dibantu 43 insinyur, mayoritas warga Ottoman.
Pekerja utama: 7.500 tentara Utsmaniyah. Dari Ma’an ke Madinah, hanya pekerja Muslim yang diizinkan karena tanah suci.
Tahapan pembangunan:
- 1900: Mulai membangun jalur telegraf Damaskus–Madinah (1.303 km)
- 1903: Damaskus–Daraa
- 1904: Sampai Amman–Ma’an
- 1906: Cabang ke Haifa (Palestina)
- 1908: Sampai Madinah
Total: 40 stasiun, 2.666 jembatan, 9 terowongan, 37 tangki air, dan bahkan rumah sakit di Tabuk serta Ma’an.
Sultan memerintahkan hamparan wol (lebade) di 30 km terakhir menuju Madinah, dicuci setiap hari dengan air mawar sebagai bentuk penghormatan.
Manfaat Nyata bagi Umat & Peradaban Islam
- Haji jauh lebih mudah: Waktu tempuh dari 40 hari menjadi 4 hari dengan biaya hanya 3,5 pound sterling. Jumlah haji naik drastis: 19.965 orang (1909) → 300.000 orang (1914).
- Keamanan: Menghemat 210 ribu lira emas per tahun untuk pengamanan kafilah.
- Ekonomi & peradaban: Penduduk Madinah melonjak dari 20 ribu menjadi 80 ribu. Haifa dan Amman berkembang pesat. Madinah mendapat listrik pertama kali.
- Militer & persatuan: Membantu pertahanan Ottoman di Yaman dan Palestina saat Perang Dunia I. Simbol nyata Pan-Islamisme.
Kereta Hejaz dalam Angka
Penentangan & Tragedi Penghancuran
Suku Badui sempat menentang karena khawatir kehilangan mata pencaharian. Inggris dan Prancis khawatir kehilangan pengaruh kolonial. Akhirnya, tahun 1917, “Lawrence of Arabia” bersama suku Badui menghancurkan rel dan jembatan dengan dinamit.
Sharif Hussein bin Ali juga menghalangi perpanjangan ke Makkah.
Peninggalan & Upaya Pemulihan hingga Kini
Pasca Perang Dunia I, Kereta Hejaz dijadikan wakaf resmi tahun 1921. Namun Perjanjian Lausanne 1924 membaginya antar negara. Beberapa kali ada rencana perbaikan (1935, 1955, 1978) — semuanya gagal.
Sekarang yang tersisa hanyalah reruntuhan stasiun, rel berkarat, dan beberapa lokomotif yang dijadikan museum atau kafe. Bahkan kereta Sultan kini menjadi restoran.
Pelajaran pahit: Bukan rel yang rusak, tapi persatuan umat yang perlu diperbaiki.
Kesimpulan & Panggilan Aksi Wakaf
Ali at-Tantawi pernah berkata tentang Kereta Hejaz: “Dia lahir setelah 8 tahun mengandung, hidup 10 tahun, lalu sakit kronis… relnya masih ada, tapi tidak ada kereta yang lewat lagi.”
James Nicholson (sejarawan Inggris) menyebutnya “kisah ketabahan dan keteguhan yang menjadi epos.”
Hari ini, di tahun 2026, kita punya kesempatan yang sama.
Sama seperti umat Islam dulu bersatu membiayai Kereta Hejaz melalui wakaf, sekarang kita bisa bersama membangun Pondok Pesantren Putri dengan program pembebasan lahan di Pondok Modern Tazakka Bandar Batang Jawa Tengah.
Setiap rupiah wakaf Anda untuk pembebasan lahan dan sarpras pendidikan akan menjadi sedekah jariyah abadi — seperti Kereta Hejaz yang masih menginspirasi umat sampai hari ini.
Wakaf Sekarang di wakaftazakka.id Pilih program:
• Wakaf Atap Asrama Suriah
• Wakaf Atas Nama Orang Tua
Pahala mengalir terus… bahkan setelah kita tiada.
Mari jadi bagian dari sejarah wakaf abad 21.





