Bayangkan Anda berjalan di jalanan sempit Damaskus kuno, di kawasan Al-Hariqah dekat Masjid Umayyah yang megah dan Souq al-Hamidiyyah yang ramai. Tiba-tiba, di sebuah gang kecil, Anda disambut oleh sebuah bangunan bersejarah dengan fasad batu yang menonjol, dihiasi kubah muqarnas berwarna merah yang indah. Di samping pintu masuk, sebuah plakat bertuliskan dalam bahasa Arab dan asing: “Bimaristan al-Nuri: Dibangun oleh Nuruddin Mahmud bin Zanki pada tahun 549 H/1154 M”. Bangunan ini bukan sekadar reruntuhan masa lalu, melainkan saksi bisu kemajuan peradaban Islam di bidang kesehatan dan pendidikan.
Apa itu bimaristan? Kata ini berasal dari bahasa Persia, “dar al-maridha” atau rumah orang sakit, yang kemudian disingkat menjadi maristan. Di masa kejayaan Islam, bimaristan adalah rumah sakit umum yang melayani berbagai penyakit, mulai dari penyakit dalam, bedah, mata, hingga gangguan jiwa. Bimaristan al-Nuri, yang kini dikenal sebagai “Museum Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan pada Orang Arab”, adalah salah satu dari tiga bimaristan tertua di Damaskus dan menjadi simbol warisan Islam yang gemilang.
Yang membuatnya istimewa adalah peran wakaf sebagai fondasinya. Nur al-Din, seorang sultan bijaksana dari dinasti Zankiyah, mewakafkan bangunan ini untuk melayani fakir miskin secara gratis. Bahkan obat-obatan langka yang sulit ditemukan di tempat lain tidak boleh ditolak bagi siapa pun, termasuk orang kaya jika dibutuhkan. Minuman dan makanan pun disediakan tanpa biaya. Ini adalah contoh nyata wakaf produktif yang memberikan manfaat wakaf berkelanjutan bagi masyarakat, sesuai dengan ajaran Islam tentang sedekah jariyah yang pahalanya mengalir terus.
Di era modern, bimaristan ini menginspirasi kita untuk menghidupkan kembali semangat wakaf. Seperti wakaf uang Tazakka yang mendukung pendidikan di Pondok Modern Tazakka, wakaf bisa menjadi alat pemberdayaan umat di bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan. Meskipun sempat ditutup selama krisis Suriah, museum ini dibuka kembali pada April 2019, mengingatkan kita akan ketahanan warisan Islam. Mari kita telusuri lebih dalam kisahnya, agar kita bisa mengambil pelajaran untuk wakaf produktif hari ini.

Nuruddin Bimaristan – Madain Project (en)
Sejarah Pendirian dan Pengembangannya
Bimaristan al-Nuri didirikan oleh Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, seorang pemimpin besar yang dikenal dengan banyak wakafnya untuk kemaslahatan umat. Pada tahun 549 H (1154 M), ia membangun rumah sakit ini sebagai wakaf abadi. Sejarawan Ibnu Katsir dalam kitabnya “Al-Bidayah wa an-Nihayah” memuji bimaristan ini sebagai “yang terbaik di antara rumah sakit yang pernah dibangun di negeri-negeri Islam”.
Syarat wakaf yang ditetapkan Nuruddin sangat mulia: rumah sakit ini khusus untuk fakir miskin, dengan pengobatan gratis termasuk obat, makanan, dan minuman. Jika ada obat langka yang hanya tersedia di sini, bahkan orang kaya pun boleh mendapatkannya tanpa ditolak. Ini mencerminkan prinsip keadilan Islam, di mana wakaf menjadi sarana untuk mendistribusikan kekayaan secara merata.
Catatan sejarah memperkaya kisah ini. Pada tahun 580 H, pelancong Ibnu Jubair mengunjungi Damaskus dan memuji bimaristan ini dalam bukunya “Ar-Rihlah”. Ia menggambarkan sistem administrasi yang canggih: petugas mencatat data pasien, kebutuhan obat, dan makanan. Dokter rutin memeriksa pasien setiap pagi, meresepkan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Ibnu Jubair menyebutnya sebagai yang terbesar dan terpenting di antara dua bimaristan di Damaskus saat itu.
Ada juga kisah menarik dari tahun 1427 M. Seorang tamu Persia bersama Gharasuddin Khalil bin Shahin al-Zahiri mengunjungi bimaristan. Melihat fasilitas mewah seperti makanan lezat dan buah-buahan segar, tamu itu pura-pura sakit dan menginap tiga hari. Kepala dokter memeriksa denyut nadinya, meresepkan menu khusus, tapi kemudian memberikan catatan: “Tamu tidak boleh menginap lebih dari tiga hari”. Kisah ini mengilustrasikan betapa nyaman dan murah hati layanan wakaf ini, meski tetap menjaga aturan.
Fungsi Ganda: Rumah Sakit dan Sekolah Kedokteran
Bimaristan al-Nuri bukan hanya tempat pengobatan, tapi juga madrasah tibbiyyah atau sekolah kedokteran. Ini menunjukkan bagaimana wakaf produktif mengintegrasikan kesehatan dan pendidikan untuk kemajuan umat. Nuruddin menunjuk Abu al-Majd Muhammad bin Abi al-Hakam sebagai kepala pertama. Setelah memeriksa pasien, Abu al-Majd biasa duduk di iwan besar untuk berdiskusi medis dengan dokter lain, membaca buku wakaf, dan mengajar murid selama tiga jam setiap hari. Hal ini dicatat oleh Ibnu Abi Usaibi’ah dalam “Uyun al-Anba fi Thabaqat al-Atibba”.
Beberapa dokter terkenal pernah berkarya di sini, seperti Imaduddin al-Dunaysiri, Muwaffaquddin Ibn al-Mutran, dan Badruddin Ibn Qadhi Ba’labak. Yang paling masyhur adalah Ibn an-Nafis, penemu sirkulasi darah paru-paru, yang belajar dan bekerja di bimaristan sebelum pindah ke Kairo.
Inovasi medisnya luar biasa. Selain pengobatan fisik, mereka menggunakan musik untuk menyembuhkan insomnia dan merawat penyakit jiwa—pendekatan holistik yang jauh mendahului zamannya. Ali al-Qayyim, mantan wakil menteri kebudayaan Suriah, menyebut bimaristan ini sebagai monumen peradaban karena pengobatan gratis dan sekolah lengkap. Wardah Ibrahim, mantan pengelola museum, menambahkan bahwa ini salah satu rumah sakit tertua yang mengobati penyakit fisik dan psikis dengan musik.
Arsitektur dan Keindahan Bangunan
Arsitektur bimaristan mencerminkan keindahan seni Islam. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan pintu masuk batu yang megah, di atasnya kubah muqarnas merah dari dalam dan luar. Setelah pintu, ada ruang masuk persegi, diikuti courtyard luas berbentuk persegi panjang dengan kolam (bahrah) di tengah, dikelilingi pohon dan tanaman. Di sekelilingnya, iwan besar di timur dan dua iwan kecil simetris di utara serta selatan.
Menurut Salahuddin al-Munjid dalam “Abniyah Dimashq at-Tarikhiyyah” (1946), bimaristan ini kaya ornamen dari era Nuriyah: muqarnas, ukiran tembaga, kayu berukir, relief marmer dan batu, hiasan plester, serta lukisan dinding. Muqarnas terdapat di atas pintu luar, kubah masuk, dan bahu pintu, menambah estetika. Wardah Ibrahim menjelaskan bahwa dinding tebal meredam suara pasar, menciptakan ketenangan bagi pasien—desain cerdas yang mendukung penyembuhan.

Perjalanan Sejarah hingga Modern
Bimaristan beroperasi sebagai rumah sakit hingga 1899, digantikan Rumah Sakit al-Ghuraba’. Kemudian menjadi sekolah, tapi rusak akibat gempa berkali-kali. Pada 1978, Direktorat Jenderal Antikuitas dan Museum Suriah merenovasinya menjadi museum dengan tiga ruang: Kedokteran (alat seperti baju dokter dan kacamata mata), Farmasi (botol kaca untuk herbal), dan Ilmu Pengetahuan (instrumen astronomi). Ada juga perpustakaan dengan manuskrip langka medis dan astronomi.
Sempat tutup selama krisis Suriah, dibuka kembali April 2019. Koleksi ini memperkaya pemahaman kita tentang kontribusi Islam di ilmu pengetahuan.

Al-Bimaristan al-Nuri, Damascus – A Rare Medieval Hospital
Pelajaran dan Inspirasi untuk Wakaf Masa Kini
Bimaristan al-Nuri adalah contoh wakaf produktif yang bertahan berabad-abad, mendukung kesehatan, pendidikan, dan ilmu umat. Ini mengingatkan hadits Rasulullah SAW: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR Muslim). Wakaf seperti ini adalah sedekah jariyah yang pahala mengalir terus, memberikan manfaat wakaf bagi generasi mendatang.
Di Indonesia, kita bisa meniru dengan wakaf uang Tazakka yang produktif, seperti mendanai Pondok Modern Tazakka untuk pendidikan berkualitas. Bayangkan wakaf membangun “bimaristan modern”: klinik gratis, beasiswa kedokteran, atau pusat kesehatan berbasis wakaf. Ini bukan mimpi, tapi aksi nyata untuk kemajuan umat.
Kesimpulan
Saudara-saudaraku sekalian, seperti Bimaristan al-Nuri yang dibangun atas wakaf Nuruddin dan terus memberi manfaat berabad-abad, mari kita bangun “atap wakaf” untuk asrama santri di Pondok Modern Tazakka.
Pembangunan Atap Gedung Asrama Suriah Lt. 3 sedang berlangsung—target Rp200.000.000 untuk melindungi ratusan santri dari hujan dan panas, agar mereka bisa fokus menghafal Al-Qur’an dan menuntut ilmu tanpa hambatan.
Setiap rupiah wakaf Anda adalah sedekah jariyah yang pahalanya mengalir terus, bahkan setelah kita tiada. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim).
Saat ini terkumpul baru Rp20.000.000 dari target Rp200.000.000. Mari kita genjot bersama!
Wakaf sekarang mulai dari Rp10.000 dan dapatkan laporan progres langsung.
WAKAF SEKARANG UNTUK ATAP ASRAMA SURIAH →
Termasuk 10% infak operasional. InsyaAllah, pahala mengalir terus untuk Anda dan keluarga.

