
Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, pernahkah Anda bertanya-tanya: harta mana yang benar-benar menjadi milik kita? Apakah yang kita simpan di bank, atau justru yang kita keluarkan di jalan Allah?
Kitab klasik Mukhtasar Minhaj al-Qasidin karya Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi (ringkasan dari Minhaj al-Qasidin karya Ibnul Jauzi) mengupas bab khusus tentang sedekah tatawwu’ (sedekah sunnah/sukarela). Bab ini penuh dengan dalil-dalil kuat dari Al-Qur’an, hadits shahih, dan atsar salaf yang membakar semangat untuk berinfak.
Mari kita telusuri bersama keutamaan luar biasa ini, kisah-kisah inspiratifnya, adabnya, serta bentuk sedekah terbaik menurut Rasulullah ﷺ.
1. Keutamaan Sedekah Tatawwu’ yang Luar Biasa
Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan ganjaran dahsyat bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas. Berikut beberapa dalil shahih yang disebutkan dalam kitab tersebut:
- Harta sejati adalah yang kita infakkan Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa di antara kalian yang lebih mencintai harta warisannya daripada hartanya sendiri?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun di antara kami kecuali hartanya sendiri lebih ia cintai.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya harta (yang hakiki) adalah apa yang ia infakkan (di jalan Allah), sedangkan harta warisannya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Bukhari) - Sedekah kecil bisa menjadi gunung pahala Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Barang siapa bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil yang halal —dan Allah tidak menerima kecuali yang halal— maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian membesarkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kalian membesarkan anak kudanya, hingga menjadi seperti gunung.” (HR. Bukhari & Muslim) - Sedekah memadamkan murka Allah dan menolak kematian buruk Dalam riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Rabb dan menolak kematian yang buruk.” - Sedekah menjadi tebusan dari api neraka
“Bersedekahlah kalian, karena sedekah itu menjadi penebus kalian dari neraka.” - Sedekah mematahkan gangguan syaitan Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang mengeluarkan sedekah kecuali Allah mematahkan darinya rahang tujuh puluh syaitan.”
2. Kisah Inspiratif: Sepotong Roti Mengalahkan Ibadah 60 Tahun
Disebutkan sebuah riwayat tentang seorang rahib yang beribadah di biara selama 60 tahun. Suatu hari ia turun membawa sepotong roti. Tiba-tiba seorang wanita mendekatinya, lalu terjadilah fitnah hingga ia berzina dengannya. Tak lama kemudian ia meninggal dalam keadaan tersebut.
Ketika amalnya ditimbang:
- Ibadah 60 tahun diletakkan di satu timbangan
- Dosa zinanya di timbangan lain
Maka dosanya lebih berat. Hingga akhirnya datanglah sepotong roti yang ia sedekahkan kepada pengemis sebelum meninggal —diletakkan di sisi amal kebaikan— maka timbangan kebaikan pun lebih berat.
Kisah ini mengingatkan kita betapa besarnya nilai sedekah di sisi Allah, bahkan bisa menebus dosa-dosa besar.

3. Sedekah Tidak Mengurangi Harta, Malah Melipatgandakannya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (khusus dalam Shahih Muslim):
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Mereka pernah menyembelih seekor kambing, lalu membagikannya. Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang tersisa darinya?” ‘Aisyah menjawab, “Tidak tersisa kecuali pundaknya.” Beliau bersabda:
“Tersisa semuanya kecuali pundaknya.”
Maksudnya: yang benar-benar menjadi milik kita adalah yang kita sedekahkan, sedangkan yang kita simpan akan menjadi milik orang lain.
4. Adab Sedekah Tatawwu’
Adab sedekah sunnah pada dasarnya sama dengan adab zakat, di antaranya:
- Ikhlas karena Allah semata
- Dari harta yang halal dan baik
- Dianjurkan secara sembunyi-sembunyi kecuali ada maslahat
- Mendahulukan kerabat yang membutuhkan
- Memberikan yang terbaik, bukan yang buruk
Para ulama berbeda pendapat: manakah yang lebih utama bagi orang fakir, menerima zakat atau sedekah sunnah? Sebagian mengatakan zakat lebih utama karena ia hak mereka, sebagian lain mengatakan sedekah sunnah lebih utama karena lebih menunjukkan kemurahan hati pemberi.
5. Sedekah Terbaik Menurut Rasulullah ﷺ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ ditanya: “Sedekah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab:
“Engkau bersedekah ketika engkau masih sehat, kikir (takut miskin), berharap kaya, dan tidak menunda-nunda hingga nyawa sampai di kerongkongan, lalu engkau berkata: ‘Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian,’ padahal harta itu sudah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Inilah sedekah terbaik: dikeluarkan saat kita masih kuat, saat kita paling takut miskin, dan saat kita paling berharap panjang umur serta bertambahnya rezeki.

Penutup: Wujudkan Sedekah Jariyah Anda Sekarang
Sedekah tatawwu’ bukan sekadar amal biasa —ia adalah investasi abadi yang terus mengalirkan pahala meski kita telah tiada. Salah satu bentuk paling indah di zaman ini adalah wakaf, yang membuat harta kita terus berputar memberi manfaat.
Mari wujudkan sedekah terbaik Anda hari ini melalui Wakaf Tazakka. Wakaf Anda akan digunakan untuk pembebasan tanah untuk Pondok Modern Tazakka Putri—mencetak generasi penghafal Al-Qur’an, dai, dan entrepreneur Muslim yang akan terus mendoakan para wakif.
Jangan tunda sampai nyawa di kerongkongan.
Sedekah terbaik adalah yang dilakukan saat kita masih sehat dan penuh harapan.
👉 Klik tombol di bawah ini untuk berwakaf sekarang dan dapatkan pahala jariyah yang tak terputus:
Semoga Allah menerima sedekah kita semua dan menjadikannya timbangan kebaikan di hari kiamat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin
