wakaftazakka.id

Keutamaan Sedekah Saat Sehat dan Takut Miskin: Penjelasan dari Fath al-Bari

Di era modern ini, banyak dari kita yang sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja. Kita sering menunda beramal dengan alasan “nanti saja kalau sudah kaya” atau “kalau sudah tua”. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan melalui sebuah hadits yang agung bahwa sedekah paling utama justru dilakukan saat kita masih sehat dan bahkan kikir.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1419), dan dijelaskan secara mendalam oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari. Mari kita pelajari bersama agar hati kita tergerak untuk segera beramal, termasuk melalui wakaf dan zakat di platform terpercaya seperti wakaftazakka.id.

Teks Hadits dan Terjemahannya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله أي الصدقة أعظم أجرا؟ قال: أن تصدق وأنت صحيح شحيح تخشى الفقر وتأمل الغنى ولا تمهل حتى إذا بلغت الحلقوم قلت لفلان كذا ولفلان كذا وقد كان لفلان

Terjemahan:

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau bersedekah sementara engkau masih sehat lagi kikir, engkau takut menjadi miskin dan mengharapkan kekayaan. Janganlah engkau menunda-nunda hingga ketika nyawa telah sampai di kerongkongan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si Fulan ini sekian, untuk si Fulan itu sekian,’ padahal harta itu sudah menjadi milik si Fulan (ahli waris).”

(Hadits ini juga memiliki taraf lain pada no. 2748)

Penjelasan Bab dalam Fath al-Bari

Imam al-Bukhari membuat bab dengan judul: “Bab Keutamaan Sedekah Orang yang Kikir dan Sehat” (dalam riwayat Abu Dzarr). Pada riwayat lain: “Sedekah Apakah yang Paling Utama?”

Imam al-Bukhari menjelaskan bahwa bab ini terkait erat dengan ayat Al-Qur’an:

وَأَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang Kami rezkikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu…” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak menunda infak karena terbuai oleh angan-angan panjang umur. Sedekah terbaik adalah yang dilakukan sebelum kematian menjemput, saat kita masih memiliki harapan duniawi.

 

Mengapa Sedekah Saat Sehat dan Kikir Lebih Utama?

  1. Melawan Nafsu yang Kuat Saat sehat, kita cenderung kikir karena masih berharap hidup lama dan takut miskin. Mengeluarkan harta di saat seperti ini membutuhkan perjuangan jiwa yang besar, sehingga menunjukkan keikhlasan dan niat yang tulus.
  2. Bukan Karena Putus Asa Sedekah saat sakit parah atau menjelang ajal sering kali tercampur motif keputusasaan (“daripada jatuh ke tangan waris”). Pahalanya tidak sebesar sedekah saat sehat, sebagaimana ditegaskan oleh ulama seperti al-Khattabi dan Ibnu Baththal.
  3. Bukan Kekikiran yang Dipuji, Tapi Keikhlasan Mengalahkannya Ibnu Hajar menegaskan: Bukan sifat kikir itu sendiri yang membuat pahala besar, melainkan kemampuan mengalahkan kikir tersebut dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Nyawa di Kerongkongan Ungkapan “بلغت الحلقوم” (sudah sampai kerongkongan) menggambarkan detik-detik akhir hayat. Saat itu, segala wasiat atau sedekah sudah tidak lagi bernilai penuh karena harta telah menjadi hak waris.

Pelajaran dari Para Ulama

  • Az-Zain bin al-Munir: Ayat tersebut mengajak kita segera berinfak sebelum terlambat.
  • Al-Kirmani: Saat sakit, seseorang kehilangan kendali penuh atas hartanya, sehingga pahala sedekahnya berkurang.
  • Ibnu Baththal: Sedekah saat sehat lebih membuktikan kejujuran niat dibanding saat putus asa dari kehidupan.

Aplikasi di Zaman Sekarang: Wakaf sebagai Sedekah Jariyah

Hadits ini sangat relevan dengan wakaf. Wakaf adalah sedekah yang pahalanya mengalir terus-menerus, bahkan setelah kita wafat — selama dilakukan saat kita masih sehat dan mampu.

Melalui platform wakaftazakka.id, kita bisa:

Mewakafkan melalui uang untuk pembangunan masjid, asrama, atau rumah guru. Mulai Rp10.000. Mudah. Tanpa tunggu nanti-nanti.

Jangan biarkan harta kita baru “beredar” setelah nyawa di kerongkongan. Mulailah sekarang, saat kita masih diberi kesehatan dan kesempatan.

Kesimpulan: Segera Beramal, Jangan Ditunda!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita: sedekah terbaik adalah yang dilakukan saat hati masih terikat dunia, tapi kita rela melepaskannya karena Allah.

Mari kita ambil pelajaran ini dan wujudkan dalam tindakan nyata. Kunjungi wakaftazakka.id sekarang juga, pilih program wakaf atau zakat yang sesuai, dan rasakan manisnya berbagi di saat kita masih mampu.

وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ

“Apa saja harta yang kamu infakkan, maka (pahalanya) untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 272)

Semoga Allah menerima amal kita semua dan menjadikannya timbangan kebaikan di hari kiamat. Aamiin.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *