Di tengah tantangan umat Islam yang semakin kompleks di era modern, kisah-kisah dari sejarah Islam sering menjadi sumber inspirasi yang tak ternilai. Salah satunya adalah peristiwa Ghazwah Tabuk, yang dikenal sebagai Jaisy al-‘Usrah atau Pasukan Kesulitan. Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan keteguhan iman para sahabat, tetapi juga peran penting perempuan Muslimah dalam mendukung perjuangan fi sabilillah. Melalui artikel ini, mari kita telusuri bagaimana harta berharga seperti perhiasan menjadi simbol pengorbanan, dan bagaimana semangat itu bisa diterapkan dalam bentuk wakaf produktif hari ini untuk membangun umat, seperti program wakaf uang Tazakka yang mendukung pendidikan Islam berkelanjutan.
Pendahuluan
Bayangkan sebuah perjalanan panjang di padang pasir yang membara, dengan ancaman musuh kuat seperti Kekaisaran Romawi di depan mata. Itulah gambaran Ghazwah Tabuk pada tahun 9 Hijriyah (630 Masehi), yang disebut Jaisy al-‘Usrah karena berbagai kesulitan yang dihadapi umat Islam saat itu. Panas terik musim panen kurma, jarak tempuh ribuan kilometer dari Madinah ke Tabuk (sekarang di barat laut Arab Saudi), ditambah kondisi ekonomi sulit akibat kemarau panjang, membuat persiapan ekspedisi ini menjadi ujian berat.
Rasulullah ﷺ tidak tinggal diam. Beliau menyeru umat untuk infak semaksimal mungkin, sebagaimana tercantum dalam hadits shahih: “Barangsiapa yang mempersiapkan pasukan al-‘Usrah, maka baginya surga” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Wasaya). Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada para pria pejuang, tapi juga seluruh umat, termasuk perempuan. Bukan hanya pria yang berlomba memberikan harta dan tenaga, perempuan Muslimah pun turut serta dengan penuh semangat, melepas barang-barang berharga mereka untuk mendukung pasukan.
Riwayat dari al-Waqidi dalam kitab al-Maghazi (jilid 3, hal. 996) menjadi saksi bisu pengorbanan itu. Umm Sinan al-Aslamiyyah, seorang sahabiyah yang ikut serta dalam beberapa peristiwa penting, menceritakan bagaimana ia melihat kain yang dibentangkan di rumah Aisyah radhiyallahu anha, penuh dengan sumbangan dari para wanita. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tapi pelajaran abadi tentang solidaritas umat dan manfaat wakaf yang mengalir terus seperti sedekah jariyah.
Latar Belakang Ghazwah Tabuk dan Jaisy al-‘Usrah
Ghazwah Tabuk terjadi pada tahun 9 Hijriyah, tepat setelah Fathu Makkah. Saat itu, umat Islam menghadapi ancaman serius dari Kekaisaran Romawi Bizantium, yang dikabarkan sedang mengumpulkan pasukan di perbatasan utara Arabia untuk menyerang Madinah. Menurut sejarawan seperti Ibn Hisham dan al-Waqidi, kabar ini datang dari para pedagang yang kembali dari Syam, menyebabkan Rasulullah ﷺ memutuskan untuk melakukan ekspedisi preventif ke Tabuk.
Kondisi umat saat itu sungguh memprihatinkan. Kemarau panjang menyebabkan kekeringan, membuat persediaan makanan dan air terbatas. Perjalanan ke Tabuk memakan waktu sekitar 20 hari bolak-balik, dengan jarak lebih dari 700 kilometer di bawah terik matahari Oktober yang panas. Belum lagi, ini adalah musim panen kurma, sumber utama penghidupan masyarakat Madinah. Banyak sahabat yang ragu, bahkan munafiqin mencoba melemahkan semangat dengan alasan-alasan sepele.
Namun, Rasulullah ﷺ dengan tegas menyeru: “Barangsiapa yang mempersiapkan pasukan al-‘Usrah, maka baginya surga” (Shahih al-Bukhari). Seruan ini membangkitkan semangat infak. Para sahabat kaya seperti Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu menyumbang seluruh hartanya, Umar bin Khattab setengahnya, sementara Uthman bin Affan radhiyallahu anhu menyumbang 1.000 dinar emas, 300 unta lengkap dengan perlengkapannya, dan bahkan membiayai sepertiga pasukan—sebuah kontribusi yang membuat beliau diganjar janji surga langsung dari Nabi ﷺ.
Seruan ini inklusif, mencakup seluruh umat. Anak-anak kecil seperti Abdullah bin Umar ikut serta, meski awalnya ditolak karena usia muda. Perempuan pun tidak ketinggalan; mereka memberikan dukungan logistik, perawatan medis, dan sumbangan harta. Inilah yang membuat Jaisy al-‘Usrah menjadi simbol solidaritas umat, di mana sekitar 30.000 pasukan berhasil diberangkatkan tanpa pertempuran besar, tapi dengan kemenangan diplomatik yang memperluas pengaruh Islam hingga ke perbatasan Romawi.

Peran dan Kontribusi Perempuan Muslimah
Bagian inti dari kisah ini adalah peran perempuan Muslimah, yang sering kali kurang mendapat sorotan dibandingkan para pejuang pria. Riwayat dari Umm Sinan al-Aslamiyyah dalam al-Waqidi’s al-Maghazi (jilid 3, hal. 996) memberikan gambaran hidup tentang pengorbanan mereka. Beliau berkata: “Aku telah melihat sebuah kain yang dibentangkan di depan Rasulullah ﷺ di rumah Aisyah radhiyallahu anha. Di atasnya ada minyak misk [1], gelang tangan [2], gelang kaki [3], anting-anting, cincin-cincin, dan barang-barang berharga lainnya, yang dikirimkan oleh para wanita untuk menolong kaum Muslimin dalam persiapan mereka.”
Terjemahan ini mengungkap makna mendalam. Minyak misk adalah parfum mewah yang langka dan mahal saat itu, simbol kemewahan. Ma‘adid adalah gelang tangan atau armlet, khalakhil adalah gelang kaki (anklets), aqratah adalah anting (earrings), khawatim adalah cincin (rings), dan khadamat mungkin merujuk pada barang-barang pelayan atau aksesoris tambahan. Semua ini bukan sumbangan sisa, tapi perhiasan pribadi yang menjadi simbol kecantikan dan kekayaan bagi seorang wanita di masyarakat Arab kuno.
Mengapa ini luar biasa? Karena perempuan sahabiyah melepas apa yang paling mereka cintai untuk mendukung jihad fi sabilillah. Sumbangan ini digunakan untuk membeli senjata, makanan, air, dan perlengkapan pasukan. Ini bukan sekadar donasi, tapi bentuk pengorbanan ikhlas yang menunjukkan iman kuat dan solidaritas umat. Umm Sinan sendiri adalah contoh; sebagai sahabiyah yang ikut bai’at Aqabah dan beberapa ghazwah, beliau tidak hanya menyaksikan, tapi juga berpartisipasi aktif.
Pola ini terlihat di berbagai peristiwa. Di Ghazwah Uhud, perempuan seperti Nusaybah binti Ka’ab (Umm Umarah) bertempur langsung, melindungi Nabi ﷺ dengan pedangnya. Di Tabuk, fokus lebih ke dukungan belakang: memberikan makanan, air dalam qirbah (kantong kulit), dan layanan keperawatan. Menurut sejarawan seperti Ibn Sa’d, banyak wanita ikut ekspedisi untuk merawat yang terluka atau haus. Di Khaybar, Umm Sinan meminta izin Nabi ﷺ untuk ikut, bukan untuk bertempur, tapi untuk “menolong yang sakit dan memberikan air kepada yang haus.”
Semangat ini lahir dari keikhlasan. Mereka memberikan yang tercinta, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran: 92, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.” Inilah esensi sedekah jariyah: pengorbanan yang membangun umat, bukan hanya untuk saat itu, tapi untuk generasi mendatang.
Pelajaran Abadi dari Kisah Ini
Kisah Jaisy al-‘Usrah dan kontribusi perempuan Muslimah menyimpan pelajaran abadi yang relevan hingga kini. Pertama, sedekah dan infaq bukan hanya dari harta berlebih, tapi dari yang dicintai. Seperti perhiasan yang dilepas para sahabiyah, kita diajak untuk berkorban secara tulus. QS. Ali Imran: 92 mengingatkan bahwa kebajikan sejati datang dari pengorbanan itu, yang pahalanya mengalir terus seperti sedekah jariyah.
Kedua, perempuan punya peran besar dalam jihad fi sabilillah, tidak selalu dengan senjata, tapi melalui harta, dukungan, dan pendidikan. Di era modern, ini bisa berwujud wakaf produktif untuk pendidikan, kesehatan, atau ekonomi umat. Semangat gotong royong di masa sulit itu menjadi fondasi takaful ijtima’i—saling menanggung beban umat—yang hari ini bisa direalisasikan melalui wakaf uang Tazakka atau program serupa.
Ketiga, inspirasi untuk zaman sekarang: di tengah tantangan seperti kemiskinan, konflik, dan krisis pendidikan, setiap kontribusi berarti. Bayangkan jika semangat perempuan sahabiyah diterapkan dalam wakaf produktif, seperti membangun fasilitas pesantren. Manfaat wakaf ini tak terputus, pahala mengalir terus bahkan setelah kita tiada, sebagaimana hadits Nabi ﷺ: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya” (Shahih Muslim).
Dalam konteks Pondok Modern Tazakka, wakaf bisa menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan, mendukung generasi muda untuk belajar agama dan ilmu pengetahuan.
Penutup
Seperti perempuan sahabiyah yang melepas perhiasan untuk Jaisy al-‘Usrah, kita pun bisa berpartisipasi dalam membangun umat melalui amal jariyah. Bayangkan jika harta yang kita miliki hari ini diwakafkan untuk pendidikan Islam yang berkelanjutan, seperti mendukung fasilitas pesantren agar generasi mendatang bisa belajar dan berkontribusi bagi umat.
Mari tiru semangat mereka dengan turut serta dalam program wakaf Pondok Modern Tazakka, termasuk pembangunan fasilitas pendukung seperti atap asrama yang sedang dibutuhkan untuk kenyamanan santri—sebuah contoh wakaf produktif yang membawa manfaat wakaf bagi banyak pihak. Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk beramal lebih baik. Allahumma shalli ala Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallim.

