Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern, ada sebuah bangunan suci yang telah berdiri lebih dari 1.300 tahun. Ia bukan sekadar masjid biasa. Ia adalah Universitas Zaitunah (Ez-Zitouna) di Tunis, Tunisia – salah satu institusi pendidikan Islam tertua di dunia yang melahirkan pemikir-pemikir besar seperti Ibnu Khaldun hingga Abu al-Qasim asy-Syabi.
Bagaimana sebuah masjid sederhana bisa bertransformasi menjadi pusat ilmu yang menginspirasi umat hingga hari ini? Jawabannya adalah kekuatan wakaf. Melalui wakaf produktif, masjid ini dirawat, diperluas, dan dijadikan universitas yang terus melahirkan generasi pemimpin umat.
Artikel ini akan membawa Anda menelusuri kisah gemilang Zaitunah sekaligus mengingatkan kita: sedekah jariyah melalui wakaf uang bisa menciptakan warisan abadi, persis seperti yang terjadi di Pondok Modern Tazakka.
Sejarah Pendirian dan Perkembangan
Universitas Zaitunah bermula dari Masjid Zaitunah yang dibangun pada tahun 79 H (698 M) oleh panglima besar Hassan bin Nu’man al-Ghassani, gubernur Afrika pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan.
Hanya lima tahun kemudian (84 H/704 M), masjid ini sudah diperluas. Kemudian pada 113 H (731 M) di bawah gubernur Ubaidillah bin al-Habhah, pembangunannya diselesaikan secara sempurna.
Sepanjang sejarahnya, masjid ini mengalami banyak perluasan besar, terutama di masa Dinasti Aghlabiyah, Fatimiyah, dan puncaknya di masa Dinasti Hafshiyah (1228–1574 M).
Yang paling mengagumkan: hampir semua perluasan dan perbaikan besar didanai melalui sistem wakaf. Di masa Hafshiyah, Sultan al-Mustansir Billah bahkan mendatangkan air dari Zaghwan melalui saluran khusus ke halaman masjid. Tiga perpustakaan megah didirikan (Maktabah Abu Faris, Abu Amr Uthman, dan Maktabah al-Abdaliyyah) dan semuanya diberi wakaf khusus agar bisa dikelola selamanya.
Di masa Ottoman dan Husainiyah hingga 1957, dana wakaf dari para amir, ulama, dan orang-orang saleh terus mengalir. Inilah bukti nyata manfaat wakaf yang abadi.
Lokasi, Asal Nama, dan Keindahan Arsitekturnya
Masjid Zaitunah terletak di jantung kota tua (medina) Tunis, dikelilingi Suk al-Attarin (Pasar Parfum) di utara dan Suk al-Balaghjiyyah (Pasar Pembuat Sepatu Tradisional) di selatan.
Ada dua riwayat tentang nama “Zaitunah”:
- Sebagian sejarawan menyebut masjid dibangun di atas reruntuhan gereja Bizantium milik seorang santa bernama Oliva (artinya zaitun).
- Riwayat yang lebih kuat menyebutkan sebuah pohon zaitun yang tumbuh di tengah bukit tempat masjid ini dibangun.
Luasnya mencapai 5.000 m² dengan 9 pintu masuk. Di dalamnya terdapat 184 tiang marmer yang menopang ruang shalat berbentuk persegi panjang. Menaranya setinggi 43 meter, bergaya Maghribi-Andalusia, mirip sekali dengan Masjid Agung Cordoba.
Halaman tengahnya (sahn) berbentuk segi lima dengan lorong-lorong marmer berwarna-warni dan jam matahari kuno untuk menentukan waktu shalat. Mihrabnya yang indah berasal dari masa Fatimiyah, dihiasi plester berukir halus. Setiap detail arsitekturnya mencerminkan perpaduan indah antara seni Islam Maghribi, Andalusia, Romawi, dan Bizantium.
Transformasi dari Masjid Menjadi Universitas
Awalnya Zaitunah hanyalah tempat shalat. Namun seiring waktu, para ulama mulai mengadakan halaqah ilmu di sudut-sudut masjid. Mulai dari fiqih Maliki, tata bahasa Arab, hingga ilmu-ilmu rasional seperti kedokteran, astronomi, filsafat, dan matematika.
Di masa Husainiyah, penguasa Ahmad Bey mendirikan “al-Masyikha” (semacam dewan ulama) untuk mengatur kurikulum, ujian, dan ijazah resmi. Sejak saat itu nama “Universitas Zaitunah” semakin dikenal luas.
Bahkan sebelum Universitas Al-Azhar dan Al-Qarawiyyin memiliki sistem formal, Zaitunah sudah menjadi pusat ilmu yang disegani.
Mirip sekali dengan visi Pondok Modern Tazakka hari ini: menggabungkan ilmu agama dan sains dalam satu wadah yang diberkahi wakaf.
Pada masa penjajahan Prancis, Zaitunah menjadi benteng pertahanan identitas Islam. Setelah kemerdekaan Tunisia, sempat diintegrasikan ke sistem pendidikan negara, sempat dihapus tahun 1958, lalu dihidupkan kembali pada 12 Mei 2012 pasca-Revolusi Tunisia.
Tokoh-Tokoh Besar Lulusan Zaitunah
Banyak tokoh dunia lahir dari halaqah ilmu di masjid ini. Berikut lima di antaranya:
![]()
1. Abdurrahman Ibnu Khaldun (1332–1406 M) Bapak Sosiologi dan sejarawan terbesar. Beliau belajar fiqih, bahasa Arab, filsafat, dan ilmu alam di Zaitunah. Karyanya Muqaddimah masih menjadi rujukan dunia hingga kini.
2. Abdul Aziz ats-Tsa’alibi (1876–1944) Pejuang kemerdekaan Tunisia, pendiri Partai Nasional Islam. Buku Tunisia asy-Syahidah (Tunisia yang Syahid) membongkar kejahatan kolonialisme.
3. Muhammad ath-Thahir bin Ashur (1879–1973) Mufasir Al-Qur’an terkemuka abad modern. Kitab tafsirnya At-Tahrir wa at-Tanwir hingga kini menjadi rujukan utama. Beliau juga menjabat Syaikhul Islam Mazhab Maliki.
4. Abdul Hamid bin Badis (1889–1940) Pembaharu Islam di Aljazair. Pendiri Jam’iyyah Ulama Muslimin Aljazair. Setiap 16 April, rakyat Aljazair memperingati “Hari Ilmu” untuk menghormatinya.
5. Abu al-Qasim asy-Syabi (1909–1934) Penyair revolusioner yang meninggal di usia 25 tahun. Potongannya yang terkenal: “إِذَا الشَّعْبُ يَوْمًا أَرَادَ الْحَيَاةَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَسْتَجِيبَ الْقَدَرُ” menjadi slogan Revolusi Arab Spring.
Kelima tokoh ini membuktikan: pendidikan yang didukung wakaf melahirkan pemimpin umat.
Pelajaran dan Inspirasi Wakaf dari Zaitunah
Zaitunah bertahan 1.327 tahun bukan karena kebetulan, melainkan karena wakaf produktif. Perpustakaan-perpustakaannya dibiayai wakaf, saluran air Zaghwan dari wakaf, renovasi menara dan mihrab dari wakaf, bahkan gaji guru dan beasiswa pelajar dari wakaf.
Ini adalah contoh nyata hadits Rasulullah ﷺ: “إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”
Wakaf adalah sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir meski pemiliknya telah tiada.
Hari ini, kita bisa meneladani Zaitunah dengan wakaf uang Tazakka untuk Pondok Modern Tazakka. Setiap rupiah yang Anda wakafkan akan digunakan untuk membangun asrama, perpustakaan, laboratorium, dan mendidik ribuan santri yang kelak menjadi penerus peradaban Islam.
Kesimpulan
Zaitunah bukan sekadar bangunan batu dan marmer. Ia adalah bukti hidup bahwa wakaf mampu mengubah masjid biasa menjadi universitas dunia yang melahirkan peradaban.
Kini giliran kita. Mari kita wariskan kebaikan yang sama untuk generasi mendatang.
Yuk, berwakaf sekarang juga melalui Wakaf Uang Tazakka. Hanya dengan Rp100.000 per bulan atau sekali wakaf produktif, Anda sudah menjadi bagian dari sejarah pendidikan Islam Indonesia.
Kunjungi wakaftazakka.id atau hubungi tim kami. InsyaAllah pahala Anda akan mengalir abadi, seperti air Zaghwan yang masih mengalir ke halaman Masjid Zaitunah hingga hari ini.
“Jika suatu kaum benar-benar ingin hidup, maka takdir pasti akan menjawab.” — Abu al-Qasim asy-Syabi
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang amalnya terus mengalir meski telah berada di alam barzakh. Aamiin.


