Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali dipenuhi dengan kesibukan ekonomi, masih ada cerita inspiratif yang mengingatkan kita pada nilai-nilai kebaikan abadi. Pada 5 Oktober 2016, sebuah momen bersejarah terjadi di halaman SPBU Kadilangu, Batang, Jawa Tengah. H. Ony Firmansyah, pemilik SPBU 44.512.12, dengan tulus mewakafkan satu selang Pertalite kepada Lazis Tazakka. Wakaf produktif ini bukan sekadar donasi biasa, melainkan terobosan baru dalam dunia wakaf yang menggabungkan aset bisnis dengan manfaat wakaf untuk umat. Acara launching wakaf ini menjadi simbol sinergi antara saudagar muslim dan pesantren, di mana keuntungan dari selang tersebut akan mengalir sebagai sedekah jariyah untuk mendukung pendidikan santri di Pondok Modern Tazakka. Kisah ini tidak hanya menghangatkan hati, tapi juga mengajak kita merenungkan bagaimana wakaf produktif bisa menjadi pahala mengalir terus, bahkan setelah kita tiada.
Acara launching wakaf ini digelar pada Rabu sore, 5 Oktober 2016, di halaman kantor SPBU yang strategis terletak di jalur Batang-Bandar. Suasana penuh kehangatan dan keikhlasan terasa sejak awal, dengan sekitar 40 orang hadir menyaksikan momen berharga ini. Para tamu undangan bukan sembarang orang; mereka adalah tokoh-tokoh kunci yang mewakili komitmen terhadap gerakan wakaf di Indonesia.
Di antara yang hadir adalah Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA., yang dikenal sebagai ulama muda dengan latar belakang Master of Art dalam Kajian Timur Tengah dari UGM. Beliau didampingi oleh Ketua Yayasan Tazakka, H. Teguh Suhardi, yang juga seorang pengusaha sukses sebagai pemilik RS. QIM. Tak ketinggalan, Direktur Lazis Tazakka, Hj. Eva Maria Ulfah, S.Ag., M.Si., serta notaris Hj. Solgianti, SH., yang memastikan proses wakaf berjalan sesuai syariat dan hukum. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para pemilik SPBU se-Kabupaten Batang dan beberapa wakif setia Tazakka, menunjukkan antusiasme komunitas bisnis muslim terhadap inisiatif wakaf produktif.
Sebagai latar belakang, beberapa hari sebelumnya, Lazis Tazakka bersama H. Ony Firmansyah telah meluncurkan gerakan mukena dan sarung bersih di mushola-mushola SPBU serta rest area sepanjang jalur Pantura dari Batang Kota hingga Gringsing. Gerakan ini mencakup sekitar 13 SPBU dan rest area, yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan ibadah bagi para musafir. Inisiatif ini menjadi pendahulu yang sempurna bagi wakaf selang Pertalite, memperkuat kolaborasi antara sektor bisnis dan keumatan.

Sambutan dan Ikrar Wakif (H. Ony Firmansyah)
Momen paling mengharukan dalam acara ini adalah sambutan dari H. Ony Firmansyah selaku wakif. Dengan suara yang penuh syukur, beliau menyampaikan betapa bersyukurnya bisa bersinergi dengan Lazis Tazakka selama beberapa tahun terakhir. “Saya bersyukur selama beberapa tahun ini bisa bekerjasama dengan Lazis Tazakka dalam gerakan-gerakan keumatan, program-programnya saya merasa cocok, maka mohon doa semoga bisa istiqomah dan berkah,” ujarnya sambil mata berkaca-kaca, menahan rasa haru yang mendalam.
- Ony kemudian mengikrarkan wakafnya dengan penuh ketulusan, menyatakan bahwa wakaf ini berlaku untuk jangka waktu yang tak terhingga atau selama-lamanya. “Bismillah, meskipun sedikit, semoga ini mendapat ridha Allah dan membawa keberkahan serta kebaikan bagi kami, keluarga dan umat pada umumnya,” ucapnya dengan rendah hati. Kata-kata ini mencerminkan esensi wakaf produktif: bukan soal besar kecilnya aset, tapi niat ikhlas yang menjadikannya sebagai sedekah jariyah. Kisah H. Ony mengingatkan kita bahwa setiap muslim, termasuk para saudagar, bisa berkontribusi melalui aset sehari-hari, seperti selang SPBU yang akan terus menghasilkan keuntungan untuk manfaat wakaf bagi pesantren.

Apresiasi dari Yayasan dan Lazis Tazakka
Mewakili Yayasan Tazakka, H. Teguh Suhardi menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas inisiatif wakaf ini. Beliau menekankan bahwa ini adalah model wakaf baru yang patut diapresiasi dan dikembangkan. “Hari ini saya merasa bersyukur dan bahagia karena untuk pertama kalinya dilakukan model seperti ini, sungguh sebuah terobosan baru dunia wakaf yang perlu diapresiasi dan dikembangkan, ini sangat menginspirasi,” ujarnya.
Menurut H. Teguh, fokus utama bukan pada hasil finansial yang diperoleh, melainkan nilai inspirasi dan edukasi bagi umat. “Bagi Tazakka, bukan dapat apa, bukan masalah hasilnya berapa, akan tetapi bahwa wakaf seperti ini akan menginspirasi dan mengedukasi umat,” tambahnya. Beliau berharap agar gerakan ini menjadi contoh bagi SPBU lain di Indonesia, bahkan menjadi gerakan wakaf SPBU nasional yang bisa ditiru oleh lembaga atau pesantren lainnya. “Ini menunjukkan bahwa ada potensi besar ekonomi umat yang selama ini belum tergarap dengan baik, inilah poin terpentingnya,” lanjut pria yang dikenal sebagai pemilik RS. QIM ini. Apresiasi ini menegaskan bagaimana wakaf uang Tazakka bisa memanfaatkan aset produktif untuk keberlanjutan pendidikan Islam.

Tausiyah KH. Anang Rikza Masyhadi
Dalam tausiyah singkatnya, KH. Anang Rikza Masyhadi menyoroti dua poin penting dari wakaf ini: jariyah yang terus mengalir dan gerakan yang menginspirasi. “Wakaf ini punya dua sisi penting, pertama jariyah yang terus mengalir karena keuntungan dari selang SPBU akan bermanfaat untuk pesantren menjadi sarana dan prasarana santri. Kedua, gerakan ini menginspirasi orang lain, sehingga jika nanti ada yang tergerak wakaf seperti ini, maka Pak Haji Ony insya Allah akan kecipratan pahalanya juga,” jelasnya.
Beliau menyitir hadis Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menunjukkan jalan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala kebaikan seperti orang yang melakukannya.” Gerakan wakaf seperti ini, lanjut Kiai Anang, mengingatkan umat pada sahabat-sahabat Rasul seperti Abu Bakar, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abu Ayyub Al-Anshari, Abu Thalhah, dan para saudagar lainnya yang mewakafkan perkebunan terbaik mereka untuk dakwah Islam.
“Hari ini, sejarah berulang, alhamdulillah umat Islam di tengah suasana hedonistik yang luar biasa seperti ini, kita masih bisa menyaksikan bayangan sosok-sosok sahabat Rasul yang mulia seperti Sayyidina Usman, Sayyidina Abdurrahman bin Auf dan lain-lainnya,” ujarnya. Kiai Anang juga menekankan pentingnya kolaborasi ulama-saudagar sebagai sunah Rasul. “Kolaborasi dan sinergi pesantren dengan para saudagar muslim perlu terus dikembangkan lebih dinamis dan strategis, terutama dalam pendidikan maupun sektor kehidupan lainnya sehingga manfaat besar untuk umat akan terasa di masa mendatang,” lanjutnya.
Beliau mencontohkan dakwah Rasul di Makkah dan Madinah yang selalu didukung saudagar seperti Siti Khadijah, Abu Thalib, Abu Bakar, Usman, dan Abdurrahman bin Auf. “Jadi kalau mau ikuti sunah Rasul dalam pergerakan dakwah ya harus kolaborasi ulama-saudagar,” tandasnya. Lebih lanjut, Kiai Anang menyatakan bahwa tidak ada jejak peradaban Islam tanpa wakaf, mulai dari Makkah, Madinah, Al-Azhar Kairo, Gontor, hingga Tazakka dan ribuan pesantren di Indonesia. “Inilah yang seharusnya menjadi pusaran gerakan kebangkitan baru umat di era sekarang dan masa mendatang, gerakan wakaf harus disyiarkan dan dibangkitkan lagi,” imbuhnya.
Di akhir tausiyah, beliau menjelaskan ragam wakaf yang dikembangkan Lazis Tazakka, yang merupakan adaptasi dari model Al-Azhar Kairo. Jenis-jenisnya meliputi:
- Wakaf aset: Seperti tanah atau bangunan.
- Wakaf tunai: Uang yang diinvestasikan secara produktif.
- Wakaf manfaat: Pemanfaatan aset tanpa transfer kepemilikan.
- Wakaf profesi: Kontribusi keahlian atau jasa.
- Wakaf pengalihan hak: Seperti saham atau hak atas aset.
“Semuanya kita kembangkan agar potensi ekonomi umat bisa terserap semua, selama ini umat banyak mengalami lost opportunity,” jelas Kiai Anang. Ini menunjukkan bagaimana Pondok Modern Tazakka memanfaatkan wakaf produktif untuk memaksimalkan manfaat wakaf bagi umat.
Pernyataan Direktur Lazis Tazakka
Usai acara, Direktur Lazis Tazakka, Hj. Eva Maria Ulfah, S.Ag., M.Si., menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berdedikasi mengembangkan wakaf untuk pesantren. “Insya Allah, dalam bulan Oktober ini akan kita launching juga jenis wakaf pengalihan hak yaitu wakaf saham dua outlet RM. Sambel Layah di Semarang masing-masing 20%, dan selanjutnya adalah wakaf manfaat sebuah apartemen dan rumah singgah setara hotel di Yogyakarta untuk dipergunakan bagi tamu-tamu pesantren,” paparnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Lazis Tazakka dalam terus inovasi wakaf produktif.

Penutup Acara
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon ridha Allah atas segala ikhtiar yang dilakukan. Sebagai simbolis, dilakukan pengisian Pertalite perdana ke mobil Pimpinan Pondok dari selang yang diwakafkan. Momen ini menjadi penanda dimulainya aliran pahala mengalir terus melalui wakaf ini.
Sekali lagi, atas nama keluarga besar Pondok Modern Tazakka, Bandar, Batang, Jawa Tengah, Direktur Lazis Tazakka menyampaikan ucapan terima kasih. “Baik yang mengelola maupun yang wakaf, kami hanya bisa mendoakan semoga jerih payahnya mendapat ridha Allah dan membawa keberkahan dalam hidupnya dunia dan akhirat, jazakumullah ahsanal jaza,” ucapnya.
Kesimpulan dan Inspirasi
Kisah wakaf selang Pertalite oleh H. Ony Firmansyah ini adalah bukti nyata bahwa wakaf sederhana bisa berdampak besar. Meski tampak kecil, ia menjadi sedekah jariyah yang abadi, menginspirasi saudagar muslim lain untuk berkontribusi. Di era modern, gerakan seperti ini mengingatkan kita pada potensi ekonomi umat yang bisa diarahkan untuk kebaikan, seperti wakaf uang Tazakka yang mendukung pesantren. Mari kita ambil inspirasi dari sahabat Rasul dan kolaborasi ulama-saudagar untuk membangkitkan gerakan wakaf produktif, demi keberkahan umat dan pahala mengalir terus.
Mari bergabung dalam gerakan wakaf produktif ini untuk mendukung Pondok Modern Tazakka. Anda bisa berkontribusi melalui berbagai program Lazis Tazakka, termasuk wakaf pembangunan atap asrama Suriah yang sedang menjadi kebutuhan urgent untuk pengembangan fasilitas santri. Kunjungi wakaftazakka.id atau hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Semoga setiap langkah kita menjadi jariyah yang membawa keberkahan dunia akhirat.

